Masalah Sosial LGBT
Keragaman dimasyarakat memerlukan
sosialisasi dan memerlukan interaksi sesama manusia. Manusia membutuhkan
manusia lainnya sebagai pemenuhan kebutuhan lahir maupun batin merupakan salah
satu fungsi dari interaksi. Dalam kehidupan bermasyarakat, tentunya akan
menghadapi masalah-masalah sosial. Masalah
Sosial adalah perbedaan antara harapan dan kenyataan yang
dipandang oleh sejumlah orang dalam masyarakat sebagai sesuatu kondisi yang
tidak diharapkan. Salah satu masalah sosial yang beredar di masyarakat yaitu
mengenai Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender atau biasa disebut LGBT. LGBT
dipakai untuk menunjukan seseorang yang mempunyai perbedaan orientasi seksual
dan identitas non-heteroseksual. Sebenarnya masalah LGBT bukanlah masalah yang
baru timbul namun sudah ada sejak bertahun-tahun yang lalu. Para kaum minoritas
itu sering dipojokkan dan mendapat
cemoohan karena dianggap melenceng kondrat manusia. Namun seiring bebasnya
pergaulan dan globalisasi sehingga semakin meluasnya budaya LGBT tersebut yang
mengakibatkan Mahkhamah Agung Amerika Serikat memutuskan untuk melakukan
legalisasi atau mensahkan secara hukum perkawinan antara kaum LGBT tersebut.
Negara Indonesia sangat tegas menolak
gerakan LGBT, karena gerakan tersebut melanggar moral, budaya, dan keagamaan, dibuktikan
dengan adanya dasar negara Pancasila. Namun cerminan sikap yang menjurus kepada
sikap LGBT ini masih sering ditemukan dikalangan masyarakat sekitar maupun
selebriti. Seperti selebriti pria yang meniru gaya wanita maupun sebaliknya, dibalik
layar kaca televisi yang bertujuan untuk memberi hiburan kepada penonton televisi
yang secara tidak langsung justru merusak cara pandang penonton terhadap
homoseksual dan menganggap sikap melenceng tersebut merupakan sikap biasa. Juga
merusak moral dan masa depan khususnya untuk anak-anak.
Dimasyarakat sekitar juga sering
ditemukan adanya hubungan maupun ketertarikan seseorang antara sesama jenis. Adapula
seorang perempuan yang bergaya tomboy ataupun sebaliknya hanya mempunyai gaya
yang berkebalikan dengan dengan gendernya tetapi sesungguhnya mereka normal/ tidak
homoseksual. Memojokkan dan melontarkan cemoohan kepada kaum LGBT bukanlah
sikap yang bijak untuk menyikapi mereka karena sesungguhnya mereka juga manusia
hanya dengan perbedaan orientasi seksual. Rehabilitasi terhadap kaum LGBT juga belum
tentu seratus persen berhasil jika tidak ada kemauan dari diri kaum homoseksual
itu sendiri.
Selain adanya penanganan yang
serius dari pemerintah tentang masalah sosial homoseksual ini, memperdalam
agama juga dapat mempengaruhi daya pikir kaum tersebut untuk kembali berjalan
kearah yang benar. Bagi kaum normal/heteroseksual tetap berhati-hati dalam
pergaulan serta menyaring segala bacaan dan tontonan dari internet maupun televisi,
juga memperdalam agama serta dukunglah kaum homoseksual tersebut dalam artian
mendukung melakukan penyembuhan.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa, LGBT
bukanlah penyakit yang mengakibatkan seseorang menyukai sesama jenis, namun
cara berfikir, pergaulan, dan faktor lingkungan lainlah yang mengakibatkan
mereka berbeda dengan kaum heteroseksual lainnya. Cara terbaik adalah tidak
mendiskriminasi kaum tersebut justru mendukung mereka untuk melakukan
penyembuhan. Serta perdalam ilmu edukasi dan ilmu agama agar tidak terjerumus
ke jalan yang salah.
No comments:
Post a Comment